MarketNews.id- Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan keempat Oktober 2026 dengan mencatatkan kenaikan IHSG sebesar 0,95 persen ke level 5.439, atau naik lebih dari 250 poin dibanding pekan sebelumnya di posisi 5.185.
Meskipun demikian investor asing mencatatkan arus dana keluar ekuitas sebesar USD299 juta hingga Kamis lalu.
PT Ashmore Asset Management Indonesia mencatat, Sektor Transportasi & Logistik dan Energi menjadi sektor dengan kinerja terbaik, masing-masing melesat +9,02% dan +6,37%.
Indeks IDX30 (+7,95%) dan LQ45 (+7,57%) mencatatkan kinerja terbaik pekan ini.
Di Amerika Serikat (AS), inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan. Harga konsumen naik 3,7% secara tahunan ( year-on-year /YoY) pada September, melebihi ekspektasi 3,6% dan naik dari 3,4% pada periode sebelumnya.
“Sebagian besar kenaikan berasal dari biaya bahan bakar yang terkait dengan konflik di Timur Tengah,” tulis Ashmore.
Di dalam negeri, tidak ada rilis data ekonomi utama sepanjang pekan ini karena perhatian pasar didominasi oleh pengumuman MSCI mengenai status pasar Indonesia, yang dibahas pada halaman berikutnya.
Respons kebijakan meredam guncangan pasar
Ashmore berpendapat, setelah aksi jual tajam pekan lalu, pasar Indonesia mulai stabil seiring respons otoritas di berbagai sektor. IHSG sempat turun di bawah level 5.000 pada Senin, tetapi kemudian menguat selama empat hari berturut-turut dan menutup pekan di level 5.439.
Bank Indonesia mengombinasikan dukungan terhadap rupiah dengan kebijakan untuk meningkatkan penyaluran kredit perbankan, bursa saham memperketat metode penghitungan indeks.
Sementara lembaga pengelola investasi negara Danantara menyatakan telah membeli saham. Rupiah ditutup di level Rp18.057 per dolar AS, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun berada di 7,45%.
Ashmore mancatat, respons kebijakan domestik menjadi sorotan utama setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 5,75%. Namun BI menaikkan suku bunga fasilitas simpanan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00%, “sehingga menyimpan dana dalam rupiah menjadi sedikit lebih menarik,” ungkap Ashmore.
Pada saat yang sama, BI akan memangkas porsi giro wajib minimum (GWM) yang harus ditempatkan bank di bank sentral sebesar 2% dalam dua tahap, pada 1 November dan 1 Desember, untuk membebaskan likuiditas guna mendukung penyaluran kredit.
BI juga memperkuat insentif bagi investor untuk melakukan lindung nilai atas risiko mata uang melalui BI dan menyatakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing dan obligasi.
Bursa saham juga akan mengeluarkan sekitar 80 saham dengan kepemilikan sangat terkonsentrasi dari penghitungan indeks IHSG mulai awal November.
Saham-saham tersebut mewakili sekitar 18% dari bobot indeks. Saham-saham itu akan tetap tercatat dan dapat diperdagangkan, tetapi tidak lagi memengaruhi pergerakan indeks.
Danantara menyatakan telah membeli saham perusahaan dengan fundamental yang baik, termasuk perusahaan milik negara, sementara sejumlah perusahaan besar mengumumkan aksi pembelian kembali saham (buyback).
“Langkah-langkah tersebut menopang sentimen pasar, dan perhatian kini beralih pada reformasi jangka panjang yang diharapkan MSCI . Investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih sepanjang pekan ini, menunjukkan bahwa investor global menunggu kemajuan lebih lanjut,” papar Ashmore.
Menurut Ashmore, MSCI menginginkan penegakan aturan yang konsisten terhadap praktik perdagangan terkoordinasi, pengungkapan kepemilikan saham yang lebih jelas, serta kemajuan menuju batas minimum free float sebesar 15%.
Mengeluarkan saham dengan kepemilikan terkonsentrasi dari penghitungan indeks merupakan langkah berarti ke arah tersebut, karena membuat IHSG lebih mencerminkan saham-saham yang benar-benar dapat dibeli investor.
“Rapat pemegang saham bursa pada 28 Oktober, yang membahas rencana demutualisasi, akan menjadi ujian berikutnya bagi momentum reformasi,” imbuh Ashmore.
Sementara itu, Ashmore mencatat, ketegangan kembali meningkat di kawasan Teluk setelah serangan Houthi menargetkan sebuah bandara dan ladang minyak Arab Saudi, sementara AS memerintahkan sebagian personel diplomatiknya meninggalkan Arab Saudi.
Di AS, saham teknologi anjlok pada Kamis karena investor mempertanyakan tingkat pengembalian dari belanja AI yang besar, dengan Nasdaq turun 2,6%. Investor beralih ke obligasi, sehingga imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun ke sekitar 4,97% dan sempat berada di bawah 5%.
The Fed akan menggelar rapat pada 27-28 Oktober, sementara pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar 9%.
Secara keseluruhan, Ashmore menilai, pekan ini menjadi periode stabilisasi setelah guncangan pasar bersejarah, didukung respons kebijakan yang terkoordinasi di dalam negeri, meskipun investor asing belum kembali.
“Dalam kondisi seperti ini, kesabaran dan selektivitas menjadi penting.” Ashmore menekankan, “Kami tetap berfokus pada perusahaan dengan tata kelola yang baik dan transparan serta obligasi berkualitas tinggi yang memberikan pendapatan andal. Diversifikasi lintas wilayah dan kelas aset juga membantu meredam gejolak di satu pasar.”
Hal-hal utama yang perlu dicermati adalah keputusan The Fed pada 27-28 Oktober, rapat pemegang saham bursa pada 28 Oktober, perubahan penghitungan IHSG pada awal November, serta pemilihan paruh waktu AS pada 3 November.
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal