MarketNews.id-Bukit Asam (PTBA), masih melakukan negosiasi ulang pengadaan BBM (Bahan Bakar Minyak), agar dapat menekan beban operasional, sebagaimana permintaan kementerian BUMN selaku kuasa pemegang saham seri A dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tahun buku 2024.
Direktur Keuangan PTBA, Una Lindasari menyatakan perseraon telah menggunaan bahan bakar B40 dengan porsi mencappai 100 persen dari total kebutuhan bahan bakar kegiatan operasional maupun pengangkutan batu bara.
“Sehubungan dengan pemanfaatan B40 sesuai dengan keputusan RUPST 2024, saat ini proses negosiasi masih berlangsung. Apabila telah diperoleh keputusan final, Perseroan akan menyampaikan pembaruan informasi tersebut kepada publik,” ungkap Una dalam PE LIVE 2025 dikutip Senin 15 September 2025.
Seperti diketahui, Kementerian BUMN menyentil PTBA soal bengkaknya beban operasioal dalam Rapat Umum Pemegang Tahunan (RUPST) tahun buku 2024 yang berlangsung tanggal 12 Juni 2025.
“Biaya penambangan, biaya angkutan dan biaya bahan bakar menuntut negosiasi ulang agar memperoleh harga yang optimal bagi PTBA terutama ditengah penurunan harga jual batu bara,” kutipan tanggapan wakil kementerian BUMN.
Kementerian BUMN memandang kenaikan beban pokok penjualan 17,7 persen secara tahunan menjadi Rp34,5 trilliun pada tahun 2024 perlu menjadi perhatian serius manajemen PTBA.
Dampaknya, laba bersih turun 16,3 persen secara tahunan menjadi Rp5,1 triliun. Padahal pendapatan tumbuh 11,19 persen secara tahunan menjadi Rp42,7 triliun.
“Struktur kontrak dan efisiensi logistik perlu dievaluasi agar peningakatan produksi tidak dibarengi penurunan profitablitas,” kutipan surat Kementerian BUMN yang ditandatangani Wamen BUMN, Kartika Wirjoatmodjo.
Lonjakan beban bahan bakar masih berlanjut sampai dengan akhir Juni 2025. Hal itu tersurat dalam laporan keuangan semester I 2025.
PTBA membukukan peningkatan pendapatan 4,08 persen secara tahunan menjadi Rp20,4 triliun pada akhir Juni 2025.
Penopangnya, penjualan batu bara meningkat 4,1 persen secara tahunan menjadi Rp20,1 triliun. Senada, pendapatan dari aktivitas lainnya naik 38,1 persen secara tahunan menjadi Rp326,6 miliar.
Namun biaya produksi bengkak 12,3 persen secara tahunan menjadi Rp18,2 triliun. Berapa pos pemberatnya, jasa penambangan meningkat 22 persen secara tahunan menjadi Rp6,1 triliun.
Jasa angkutan batu bara turut tumbuh 6,8 persen secara tahunan menjadi Rp4,6 triliun. Bahkan biaya bahan bakar dan pelumas melonjak 132,5 persen secara tahunan menjadi Rp1,9 triliun.
Dampaknya, laba kotor terpangkas 35,2 persen secara tahunan menjadi Rp2,2 triliun. Bahkan, laba usaha amblas 63,6 persen secara tahunan sisa Rp914,6 miliar.
Demikian juga dengan laba sebelum pajak penghasilan anjlok 59,5 persen secara tahunan menjadi Rp1,095 triliun.
Abdul Segara
MarketNews.id Media Investasi dan Pasar Modal