Home / Korporasi / BUMN / Wamen BUMN : Garuda Indonesia Tbk Butuh USD1 Miliar Agar Tetap Bisa Mengudara

Wamen BUMN : Garuda Indonesia Tbk Butuh USD1 Miliar Agar Tetap Bisa Mengudara

Marketnews.id Kepastian Pemerintah lewat Kementrian BUMN tentang nasib maskapai penerbangan pembawa bendera negara PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sudah mulai tampak. Manajemen PT GIAA dan konsultan yang ditunjuk diberi keleluasaan untuk melakukan negoisasi ulang dengan kreditor, lessor dan pemegang obligasi dan Sukuk perseroan.

Dapat dipastikan pemerintah akan buka pintu buat swasta bila tertarik menjadi pemegang saham utama. Proses negoisasi ini ditunggu hingga kuartal kedua 2022 mendatang bila perusahaan tidak dipailitkan oleh kreditur. Sambil menunggu proses nego, GIAA setidaknya butuh modal operasional sekitar USD1 miliar.

PT Garuda Indonesia, Tbk (GIAA) membutuhkan setidaknya USD1 miliar dana tambahan untuk memangkas utang dan tetap “mengudara”. Pemerintah mengatakan dapat melepaskan kendali mayoritasnya atas maskapai penerbangan yang dirundung utang itu.


Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo, mengatakan Garuda saat ini sedang dalam pembicaraan dengan kreditur untuk merestrukturisasi utang senilai USD6,3 miliar, dan diharapkan dapat mencapai kesepakatan pada kuartal kedua tahun 2022.


Maskapai pembawa bendera Indonesia ini, telah menyiapkan beberapa opsi dalam negosiasi utang. Termasuk beralih ke instrumen seperti obligasi konversi wajib atau pinjaman bank tanpa kupon.


“Kami sedang bernegosiasi dengan banyak pihak untk keperluan yang berbeda, sehingga preferensi mereka berbeda-beda,” kata Kartika, yang membawahi perusahaan transportasi negara.


“Harus saya tegaskan, pemerintah tidak ingin membuat Garuda bangkrut. Yang kami cari adalah penyelesaian utang baik di luar proses pengadilan atau melalui proses pengadilan,” imbuhnya seperti dikutip Bloomberg, Senin, 1 Nopember 2021.


Setelah kesepakatan utang tercapai, Garuda akan mulai mencari cara untuk mengumpulkan dana USD1 miliar untuk membayar kewajibannya dan untuk modal kerja.

Dengan kebutuhan dana yang begitu tinggi, pemerintah kini memilih bersikap realistis dan terbuka terhadap kemungkinan investor swasta menjadi pemilik mayoritas.


“Kami sedang berusaha mengajak pemain hub besar,” katanya.


Kartika mengatakan, Garuda harus memangkas utangnya sekitar 70%-80% agar bisa bertahan. Laporan keuangan terbaru perusahaan menunjukkan bahwa Garuda memiliki ekuitas negatif sebesar USD2,8 miliar pada akhir Juni.


Garuda bergabung dengan sejumlah maskapai global yang rontok akibat pandemi. AirAsia Group Bhd. telah menawarkan untuk membayar kreditur hanya 0,5% dari lebih dari USD8 miliar total utang yang mereka miliki, dan mengakhiri semua kontrak yang ada.

Philippine Airlines Inc. bahkan mengajukan pailit di New York pada September lalu.


Di luar Asia Tenggara, Latam Airlines yang berbasis di Chili, Aeromexico dan Avianca Holdings Kolombia mencari perlindungan pengadilan pada tahun 2020.


Sebagai mantan bankir kawakan, Kartika sejatinya sudah terbiasa berurusan dengan restrukturisasi utang. Tapi dia mengakui adanya permasalahan yang unik di Garuda, karena faktor-faktor seperti pandemi, volatilitas nilai tukar, dan sensitivitas harga minyak.


Dalam skenario terburuk pemerintah, Garuda akan meminta perlindungan pengadilan jika semua negosiasi gagal, ungkap Kartika.
“Saya akan menempatkan tantangan Garuda di 9,5 pada skala 1 hingga 10,” katanya. “Kami hanya berlari dengan harapan sekarang.” Pungkasnya.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *