Home / Otoritas / Bank Indonesia / Pertamina Grup Berharap Dapat Pendanaan Dari Indonesia Investment Authority (INA)

Pertamina Grup Berharap Dapat Pendanaan Dari Indonesia Investment Authority (INA)

Marketnews.id Pertamina Grup sebagai BUMN energi sudah mulai ancang ancang untuk memanfaatkan lembaga baru Indonesia Investment Authority (INA) untuk berpartisipasi mendanai belanja modal Pertamina Grup yang mencapai sekitar USD92 miliar atau setara dengan Rp 1.288 triliun. Besarnya belanja modal yang akan dikeluarkan oleh Pertamina dalam beberapa tahun ke depan, juga menjadi salah satu daya tarik buat pemodal dari luar masuk lewat INA. Proyek Pertamina manakah yang layak didanai oleh INA.

BUMN energi pemerintah, PT Pertamina (Persero) membidik pendanaan dari sovereign wealth fund (SWF) atau Indonesia Investment Authority (INA) untuk mendanai belanja modal proyek hulu hingga hilirnya sebesar US$92 miliar.

Dengan estimasi kurs Rp14.000 per dolar AS, maka alokasi belanja modal Pertamina senilai US$92 miliar setara dengan Rp1.288 Triliun.

Direktur Keuangan Pertamina Emma Sri Martini menuturkan, terdapat 14 proyek Pertamina yang menjadi proyek strategis nasional (PSN) di sektor hulu, hilir, dan energi bersih terbarukan sepanjang 2020 hingga 2024.


Menurutnya, proyek kilang, gas atau energi bersih dan terbarukan berpotensi untuk mendapatkan pendanaan dari SWF Indonesia yang terus berjalan untuk pemulihan ekonomi nasional.

“Belanja modal hingga US$90 miliar sampai 2024. Balance sheet kami overstress kalau pakai dana internal semua. Ini kami berharap dari capital financing, bisa dari mana-mana ini. Ke depan Pertamina juga open private investment dan strategic partnership baik investor finance maupun technical,” urainya, Kamis (4/3/2021).

Dia menyebut, di antara 14 PSN yang digarap pertamina, terdapat 4 PSN terkait energi bersih dan terbarukan yang menarik untuk didanai melalui skema SWF, seiring dengan meningkatnya tren pendanaan untuk energi hijau di dunia.


Keempat proyek tersebut yakni gasifikasi batu bara Tanjung Enim yang membutuhkan modal sebesar US$2,1 miliar, Green Diesel RU IV Cilacap butuh dana US$03, miliar, Green Refinery RU III Plaju butuh dana US$0,7 miliar dan Katalis Merah Putih butuh dana RP170 miliar.

Selain proyek PSN, terdapat empat proyek strategis Pertamina yang dapat menggunakan sumber dana SWF. Dia menyebut ada Proyek Olefin TPPI dengan nilai belanja modal hingga US$3,7 miliar.

Belum lagi pengadaan infrastruktur BBM dan LPG sebesar US$2 miliar, Transmisi dan Distribusi Gas US$4miliar dan pembentukan ekosistem electronic vehicle (EV) battery sebesar US$3,2 miliar.


“Proyek EBT ini banyak peminatnya, investor yang SDGs minded dan green minded. Project kami garap di luar geothermal yang ada di PGE. Ada gasifikasi, katalis merah putih dan juga EV battery,” urainya.

Dalam jangka waktu 5 tahun ke depan tersebut, terdapat berkisar 300 proyek Pertamina yang berpotensi mendapatkan pendanaan dari INA dengan total investasi sebesar US$92 miliar untuk membangkitkan sektor energi nasional.

Proyeksinya, pendanaan sebesar US$40 miliar diupayakan dari pembiayaan eksternal seperti global bond, corporate loan, partnership, unlock value, serta dari otoritas investasi Indonesia.

Emma menargetkan partisipasi INA dalam proyek-proyek Pertamina dalam bentuk equity injection dapat memperkuat struktur modal Pertamina. Selain itu, Equity injection dapat mempertahankan target debt to equity ratio (DER) perseroan di bawah 80 persen.

Di sisi lain, Pertamina membutuhkan equity partner dalam mengimplementasikan rencana belanja modalnya. Prioritas belanja modal terus dilakukan guna menjaga keuangan Pertamina sesuai dengan tingkat profitabilitas belanja modal itu sendiri.

Check Also

Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) Raih Kenaikan Laba Bersih Di 2021 Jadi Rp 3,03 Triliun

Marketnews.is Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) catat debut pertamanya setelah merger dengan bank syariah milik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *