Home / Korporasi / BUMN / PT Timah (TINS) Rugi Rp703,97 Miliar

PT Timah (TINS) Rugi Rp703,97 Miliar

Marketnews.id Kinerja usaha suatu perusahaan ditentukan banyak faktor. Bisa karena pasar yang sedang lesu, bisa juga karena kalah bersaing dengan kompetitor yang lebih agresif. Atau bisa juga karena manajemen salah urus, hingga perusahaan tidak efisien.

Berhasil meraih laba tahun sebelumnya, bukan jaminan akan terus untung di tahun selanjutnya. PT Timah Tbk, salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN), tahun 2018 berhasil meraih laba bersih sebesar Rp 278,88 miliar, dan di tahun 2019 justru mengalami kerugian sebesar Rp703,97 miliar. Lalu gimana nasib di tahun 2020 ini dimana hampir semua usaha terpapar dengan Pendemi Covid-19.

Seperti diketahui, kinerja keuangan PT Timah Tbk (TINS) untuk Tahun Buku 2019 mencatatkan kerugian hingga mencapai Rp703,97 miliar, padahal setahun sebelumnya emiten BUMN ini mampu meraup laba bersih senilai Rp278,88 miliar.


Berdasarkan keterbukaan informasi TINS yang dilansir Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (15/4), sepanjang 2019 jumlah pendapatan usaha TINS melambung menjadi Rp19,3 triliun dari Rp11,02 triliun pada 2018.


Namun demikian, selama tahun lalu beban pokok pendapatan perseroan juga mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp18,17 triliun, padahal setahun sebelumnya beban pendapatan TINS tercatat Rp9,94 triliun. Sehingga, laba bruto TINS di 2019 menjadi senilai Rp1,14 triliun.


Per 31 Desember 2019, total liabilitas TINS mengalami lonjakan sebesar 66 persen (yoy) menjadi sebesar Rp15,1 triliun dari Rp9,07 triliun. Adapun jumlah liabilitas jangka pendek TINS per akhir 2019 mencapai Rp11,96 triliun, sedangkan liabilitas jangka panjang senilai Rp3,14 triliun.


Menurut Kepala Akuntansi TINS, Fina Eliani, peningkatan liabilitas tersebut utamanya disebabkan oleh peningkatan jumlah utang bank jangka pendek dan obligasi yang digunakan TINS untuk modal kerja dan investasi. “Selain itu, utang usaha juga meningkat seiring dengan peningkatan volume produksi perseroan,” ucapnya.


Sementara itu, total ekuitas TINS per akhir 2019 tercatat menurun 14 persen (yoy) menjadi Rp5,26 triliun. Sehingga per 31 Desember 2019, total aset TINS tercatat meningkat 34 persen (yoy) menjadi Rp20,36 triliun dari posisi per 31 Desember 2018 yang senilai Rp15,22 triliun. Mencermati kinerja di atas, para analis saham ragu dengan kinerja perseroan di tahun ini. Mengingat hampir semua jenis usaha terpapar Pendemi covid-19. Di tahun yang relatif stabil, perseron tidak dapat meningkatkan kinerjanya.

Check Also

Fitch : Pemulihan Fiskal Global 2022-2023 Melambat. Inflasi dan Kenaikan Harga Buat Dilema Bank Sentral

Marketnews.id Lembaga pemeringkat Fitch Rating memprediksi, pertumbuhan ekonomi global akan mengalami pelambatan lantaran ada konflik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *