Home / Korporasi / BUMN / Kasus Jiwasraya Sudah Masuk Ranah Politik. Mampukah Otoritas Bursa Netral?

Kasus Jiwasraya Sudah Masuk Ranah Politik. Mampukah Otoritas Bursa Netral?

Marketnews.id Otoritas Bursa mulai dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Bursa Efek Indonesia (BEI), dan anak usaha dari BEI seperti Kostodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dan KPEI harus netral dan transparan dalam menjelaskan kasus gagal bayar asuransi Jiwasraya kepada pihak berwenang yang saat ini sedang melakukan penyelidikan.

Seperti diketahui, kasus gagal bayar asuransi Jiwasraya saat ini sudah masuk tanah Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). Anggota Komisi XI Misbakhun dari fraksi Partai Golkar menduga ada konspirasi atau persekongkolan dala m kasus investasi saham gorengan dan reksa dana yang dilakukan oleh PT Asuransi Jiwasraya (Persero).

Hal itu ia yakini ketika Direktur Utama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI), Uriep Budhi Prasetyo mengungkapkan bahwa produk investasi reksa dana yang ditawarkan oleh manajer investasi sebagian besar dibuat khusus untuk Jiwasraya.

“Kalau dibaca dari hasil manajer investasi yang mempunyai izin, kemudian harusnya knowledgeable-nya juga sebagai fund manager yang benar, isinya itu produknya hanya beberapa seperti tailor made (dibuat khusus) untuk Jiwasraya. Ini kalau dilihat dari hasil pengamatan isi dari manajer investasi,” ungkap Uriep dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi XI, di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Mendengar jawaban Uriep, ia meyakini ada konspirasi. “Kalau begitu kita sudah dapat jawabannya, ini konspirasi,” tegas Misbakhun.
Tak hanya Misbakhun, Wakil Ketua Komisi XI Amir Uskara sebagai pimpinan rapat pun setuju dengan teori konspirasi ini.

“Saya kira kita sepakat,” sahut Amir.
Kemudian, Uriep kembali memaparkan, dalam setiap penjualan reksa dana open end biasanya dibeli oleh beberapa investor.

Uriep memaparkan, untuk produk Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) saja dapat dibeli oleh 49 investor. Jika melihat produk reksa dana yang diinvestasikan Jiwasraya, 70-90% hanya dibeli oleh perusahaan asuransi pelat merah tersebut.

“Kalau produknya namanya reksa dana open end harusnya kan bisa beberapa investor ya. Kalau RDPT hanya terbatas 49 pihak. Nah ini mereka banyak produknya open end. Tapi investornya kalau mau dilihat data yang kami berikan itu, let’s say Asset Under Management (AUM)-nya sekian, tapi Jiwasraya isinya rata-rata di-range-nya 70-90%. Itu datanya sudah kami berikan,” papar Uriep.

Direktur Utama Bursa Efek Indonesia (BEI) Inarno Djajadi mengungkapkan, bahwa pihaknya sudah memperingatkan PT Asuransi Jiwasraya (Persero) terkait pembelian saham-saham yang dilakukan perusahaan itu.

Ia menegaskan, meski tak bisa melarang Jiwasraya membeli saham gorengan, namun pihaknya sudah memberikan sanksi atas saham-saham yang dibeli Jiwasraya.

“Jadi itu yang terjadi, kita sudah memberikan alert-alert itu. Kalau bapak-ibu sekalian ingin mendalaminya, kita ada catatan dari 2016 sampai 2019, berapa banyak sanksi yang diberikan ke saham-saham yang terkait Jiwasraya,” ungkap Inarno dalam rapat dengar pendapat (RDP) Komisi XI, Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (10/2/2020).

Ia menuturkan, pada tahun 2016, BEI sudah memberikan 39 sanksi untuk saham-saham yang berkaitan dengan Jiwasraya. Lalu, pada tahun 2017 BEI memberikan 64 sanksi, tahun 2018 65 sanksi, dan 2019 74 sanksi.

Ketika ada unusual market activity (UMA), BEI memperingatkan investor, termasuk Jiwasraya. Aktivitas tidak biasa itu terkait dengan volatilitas harga saham. Namun, jika Jiwasraya masih juga membeli saham tersebut, maka BEI tak bisa menghentikannya.

“Kantor Akuntan Publik (KAP) itu yang dipakai oleh emiten atau Jiwasraya. Kalau memang sekiranya KAP yang emiten memberikan disclaimer, kita masukkan ke notasi. Bilamana ada yang tidak menyatakan pendapatan atau disclaimer, kita tulis D, equity negatif kita tulis E. Kita memberi informasi ke investor keseluruhan. Namun kalau sudah diberi informasi tetap dilakukan investor, bukan salah kita,” tegas Inarno.

Check Also

OJK Minta Perbankan Percepat Pembentukan Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN)

Marketnews.id Perlahan tapi pasti, kinerja perbankan nasional sejak hadirnya pendemi Covid-19 dua tahun lalu berangsur …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *