Home / Otoritas / Bank Indonesia / Beda Bank Beda Pula Target dan Proyeksi Usahanya

Beda Bank Beda Pula Target dan Proyeksi Usahanya

Marketnews.id Industri perbankan, masih menghadapi banyak ketidakpastian di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Selain itu, pelaku usaha dan masyarakat juga masih menunggu gebrakan baru pemerintah.

Emiten perbankan, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2020 pada kisaran 7%–8%. Proyeksi tersebut sejalan dengan adanya tantangan rendahnya permintaan kredit.

Executive Vice President Secretariat & Corporate Communication BCA Hera F Haryn mengungkapkan BCA mempertimbangkan faktor eksternal dan internal yaitu di tengah ketidakpastian pasar global dan menanti terobosan dari kabinet pemerintahan Presiden Joko Widodo periode ke-2.

“Target pertumbuhan kredit 2020 berada pada kisaran 7%-8%. Rendahnya permintaan kredit menjadi tantangan di tahun 2020. Sementara itu, dana pihak ketiga diproyeksikan tumbuh 6%-7%,” ungkapnya.

Akan tetapi BCA optimistis, selalu ada peluang di pasar. Apalagi, apabila kondisi ekonomi tahun depan lebih baik dari proyeksi, maka tentu kami akan segera memanfaatkan momentum dan potensi pasar tersebut untuk mendorong mesin kinerja bisnis perusahaan berputar lebih kencang.

Dalam laporan publikasi Otoritas Jasa Keuangan, nilai kredit yang disalurkan oleh BCA hingga Oktober 2019 mencapai Rp566,38 triliun.

Sementara itu, dana murah mencapai Rp514,88 triliun, yang terdiri dari giro dan tabungan masing-masing senilai Rp177,59 triliun dan Rp337,29 triliun. Total simpanan berjangka (deposito) hingga Oktober 2019 senilai Rp164,49 triliun

Sebelumnya, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja mengatakan, perseroan memasang target pertumbuhan konservatif pada kredit segmen konsumer tahun depan.

Menurutnya, industri perbankan masih menghadapi banyak ketidakpastian di tengah kondisi ekonomi yang belum stabil. Di samping itu, pelaku usaha dan masyarakat juga masih menunggu gebrakan rezim pemerintahan baru.

“Tidak berani prediksi dulu, konservatif sama seperti tahun ini, kalau membaik kita siap gebrak pasar,” katanya.

Lain lagi yang akan dilakukan oleh bank milik pemerintah.

PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI) memproyeksikan pertumbuhan kredit berkisar 13%-15% dan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) berkisar 11%-13%.

Anggoro Eko Cahyo, Direktur Bisnis Konsumer PT Bank Negara Indonesia Tbk. (BNI) mengungkapkan bahwa target indikatif BNI ini berada di atas proyeksi perbankan nasional yang ditetapkan oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Kedua lembaga otoritas tersebut memproyeksikan pertumbuhan kredit berkisar 11%-13% dan pertumbuhan DPK berkisar 9%-11%.

Menurutnya, proyeksi target BNI yang berada di atas proyeksi industri perbankan tersebut telah mempertimbangkan faktor eksternal dan domestik yang diyakini perkembangannya mengarah ke perbaikan.

“Target kredit kami sekitar 13%-15% dan DPK sekitar 11%–13% pada 2020. Sinergi dengan anak-anak perusahaan sudah kami siapkan pula sehingga kinerja BNI Group akan terus membaik dan berkesinambungan,” ungkapnya.

Adapun faktor eksternal, tekanan perang dagang, Brexit dan risiko geopolitik berangsur-angsur mereda. Anggoro menilai harga sebagian komoditas pun membaik seiring proyeksi membaiknya perekonomian global yang dimotori oleh perekonomian negara-negara berkembang (EMs) di Asia, termasuk Indonesia.

Dari faktor domestik, katanya, perkembangan ekonomi tetap stabil dan membaik disertai bauran kebijakan moneter dan fiskal yang sama-sama akomodatif, counter-cyclical dan pro pertumbuhan menjadi pertimbangan utamanya.

Lebih jauh Anggoro menuturkan, penyaluran kredit BNI bakal prioritaskan ke sektor-sektor ekonomi yang sudah dipetakan dengan baik di tingkat nasional maupun wilayah/regional. Tentu saja upaya menjaga kualitas aset menjadi prioritas utama perseroan.

Selain itu, untuk menambah likuiditas, perseroan juga telah melakukan pemetaan dana murah baik di level nasional maupun wilayah/regional. Anggoro menuturkan bahwa strategi peningkatan fee based income pun sudah disiapkan dengan baik melalui konsep supply chain financing, cross selling maupun optimalisasi electronic banking transactions. Bank swasta nasional punya proyeksi yang berbeda dengan bank pemerintah meski indikator yang digunakan sama. Naaabah atau pemegang saham tinggal memilih.

Check Also

Erick Thohir : Pembelian Dolar Dilakukan Secara Optimal, Terukur Dan Sesuai Kebutuhan

MarketNews.id Tingkat inflasi di US yang sulit turun salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energy. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *