Home / Otoritas / Bank Indonesia / BI : Pertumbuhan Kredit Direvisi,GWM Diturunkan.

BI : Pertumbuhan Kredit Direvisi,GWM Diturunkan.

Ikhtiar Bank Indonesia (BI), untuk menambah ketersedian likuiditas perbankan dalam meningkatkan pembiayaan dan mendukung pertumbuhan ekonomi terus dilakukan. Salah satu ikhtiar BI adalah dengan menurun kan Giro Wajib Minimum (GWM)Rupiah perbankan sebesar 50 bps.

Selain itu, (BI) juga merevisi pertumbuhan target penyaluran kredit menjadi 8 persen hingga akhir tahun 2019. Begitu pula dengan target pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang dipatok sebesar 8 persen.

Seperti diketahui, sebelumnya, BI memproyeksikan pertumbuhan kredit perbankan dapat tumbuh di kisaran 10 persen-12 persen dan DPK  di kisaran 7 persen-9 persen pada 2019.

Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, pertumbuhan kredit melambat dari 8,59 persen yoy pada Agustus 2019 menjadi 7,89 persen yoy pada September 2019. Perlambatan paling besar terutama dipengaruhi oleh permintaan kredit korporasi yang belum kuat.

Sementara itu, pertumbuhan DPK pada September 2019 tercatat sebesar 7,47 persen yoy, menurun dibandingkan dengan pertumbuhan Agustus 2019 sebesar 7,62 persen yoy.
“Dengan mempertimbangkan perkembangan tersebut, pertumbuhan kredit perbankan 2019 diprakirakan sekitar 8 persen dan ditopang oleh pertumbuhan DPK juga sekitar 8 persen,” katanya usai Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia, Kamis (21/11/2019).

Di samping itu, Bank Indonesia memandang, likuiditas perbankan masih terjaga dengan baik, tercermin pada rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) sebesar 19,43 persen pada September 2019, meski masih terjadi segmentasi dan perebutan likuiditas di bank umum kegiatan usaha (BUKU) I, II, dan III.

Selain itu, stabilitas sistem keuangan juga terjaga yang tercermin dari rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) perbankan September 2019 yang tinggi yakni sebesar 23,19 persen.

Dia menambahkan, rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bank meningkat tipis pada September 2019, namun masih berada pada posisi yang rendah yakni sebesar 2,66 persen gross atau 1,18 persen net.

Di sisi lain, Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2019 memutuskan untuk menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) Rupiah sebesar 50 bps.

Dari penurunan GWM sebesar 50 bps, maka bank akan mendapat tambahan likuiditas sebesar Rp26 triliun, yakni bank umum mendapat tambahan likuiditas sebesar Rp24,1 triliun dan bank umum syariah sebesar Rp1,9 triliun.

Selain itu, kata Perry, kebijakan tersebut ditempuh karena BI masih melihat terjadinya segmentasi dan perebutan likuiditas antar bank, khususnya bank umum kegiatan usaha (BUKU) I,II, dan III meski secara agregat kondisi likuiditas bank secara industri membaik.

“Memang secara agregat jumlah likuiditas cukup, tercermin dari rasio Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga [AL/DPK] sebesar 19,43%, cuma masalahnya distribusi likuiditas antar bank tidak merata, bank kategori BUKU III, II, dan I memang mengalami kekurangan dana karena persaingan DPK,” jelas Perry.

Check Also

Fitch : Pemulihan Fiskal Global 2022-2023 Melambat. Inflasi dan Kenaikan Harga Buat Dilema Bank Sentral

Marketnews.id Lembaga pemeringkat Fitch Rating memprediksi, pertumbuhan ekonomi global akan mengalami pelambatan lantaran ada konflik …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *