Home / Korporasi / BUMN / Awal Tahun 2020 Investor baru Jiwasraya akan ditentukan.

Awal Tahun 2020 Investor baru Jiwasraya akan ditentukan.

Marketnews.id Beban Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) semakin hari semakin berat. Berturut turut kasus yang menimpa BUMN mulai terungkap. Belum selesai kasus yang menimpa PT Garuda Indonesia Tbk, kasus baru juga muncul berupa kasus turunannya yang melibatkan anak usaha hingga cucu usaha BUMN. Wakil Menteri BUMN Kartika Wirjoatmodjo menargetkan proses uji tuntas (due diligence) lima investor yang berminat menyuntikkan modal di anak usatha PT Asuransi Jiwasraya, yakni PT Jiwasraya Putra, dapat selesai pada Desember 2019. Di sela-sela acara Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia ( IAEI ), di Jakarta, Jumat (13/12), Kartika mengatakan lima investor itu terdiri dari empat investor asing dan satu investor domestik. Jika uji tuntas selesai Desember 2019, maka kelima investor itu diharapkan dapat memulai penawarannya pada Januari 2020. “Mungkin Desember 2019 ini (selesai), Januari kasih bid (penawaran) ya. Semoga Desember sudah selesai,” ujar dia.Namun Kartika masih enggan mengungkapkan siapa saja investor yang tertarik masuk ke Jiwasraya tersebut. Seperti diketahui, pencarian investor ke anak usaha yakni Jiwasraya Putra, menjadi salah satu opsi untuk menyelamatkan induk usaha Asuransi Jiwasraya yang sedang terbelit masalah keuangan. Jiwasraya membutuhkan tambahan modal untuk membentuk arus keuangan (cashflow) yang positif serta membayar tunggakan klaim polis.Pendirian Jiwasraya Putra sudah disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Jiwasraya Putra memang sengaja dibentuk untuk menyokong keuangan induk usahanya. Anak perusahaan ini sudah diberikan konsesi untuk menangani (cover) asuransi-asuransi beberapa BUMN . Berdasarkan materi presentasi Rapat Dengar Pendapat Jiwasraya dengan DPR, Jiwasraya membutuhkan dana Rp32,89 Triliun untuk memenuhi rasio kecukupan modal berbasis risiko (risk based capital) sesuai ketetapan otoritas yakni 120 persen. Jiwasraya juga tercatat memiliki ekuitas yang negatif karena beberapa penyebab, di antaranya perusahaan banyak melakukan investasi pada aset berisiko untuk mengejar imbal hasil tinggi, yang oleh Kementerian BUMN terang-terangan disebut saham “gorengan”.

Check Also

Erick Thohir : Pembelian Dolar Dilakukan Secara Optimal, Terukur Dan Sesuai Kebutuhan

MarketNews.id Tingkat inflasi di US yang sulit turun salah satunya dipicu oleh kenaikan harga energy. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *